Minggu, Januari 19

MEMORI 2: PENGORGANISASIAN, KELUPAAN, DAN MODEL MEMORI


                                                               Oleh: Jumadi Tuasikal
 
Karakteristik yang paling penting dalam pembelajaran individu adalah ingatan dan pengorganisasian. Jika karakteristik tidak maka akan terjadi kekacauan dalam proses ingatan. karena itu ingatan harus disusun sedemikian rupa.

A.    Proses pengorganisasian
 Informasi dalam memori dapat dilihat dengan cara:
     1.      Melihat pengaruh konteks dalam ingatan (context and memory). Konteks berperan membantu pengorganisasian bentuk-bentuk tertentu untuk menempatkan informasi dalam memori.
      2.      Constructive processes, proses ini mengacu kepada tindakan yang dilakukan manusia untuk mampu mengintegrasikan atau mengorganisasikan informasi dalam memori sehingga informasi tersebut menjadi lebih padu atau koheren.
      3.      Semantic memory, pembelajaran ingatan semantik mempunyai hubungan dengan ingatan kita secara alami. Peristiwa semantik dalam ingatan kita akan memberikan pengalaman bahasa yang baru. Peristiwa yang kita dapatkan melalui pengalaman bahasa berbeda dari pengalaman dan peristiwa di tempat-tempat tertentu. Berbagai makna kata dihubungkan satu sama lainnya dalam memori oleh suatu titik hubung dalam suatu jaringan.
4.      Perceptual grouping and memory: bahwa segala sesuatu informasi dikelompokkan secara perseptual, informasi yang ada akan tersusun secara sementara, oleh karena itu manusia menggunakan susunan untuk mengodekan dan menyimpan informasi tersebut.

B.     Lupa
Secara sederhananya Lupa dimaknai sebagai kegagalan untuk memunculkan kembali dari simpanan tentang informasi yang pernah ia dapatkan. Salah satu penyebab kelupaan adalah kegagalan menggunakan materi yang dipelajari, tidak adanya latihan dan pengulangan. Setelah informasi ditempatkan dalam memori jangka panjang itu jauh lebih tahan terhadap kelupaan. Namun demikian, informasi dalam sistem ini juga dapat melupakan fakta bahwa meskipun memori jangka panjang adalah sebuah sistem yang stabil lebih dari memori jangka pendek. Oleh karena itu, masalah utama dari memori jangka panjang adalah untuk menentukan penyebab dari lupa setelah waktu lama yang melibatkan tidak praktek tambahan.
Pandangan lama dipegang adalah bahwa lupa terjadi karena tidak digunakan. Jika kita gagal untuk menggunakan bahan belajar, dalam arti tidak ada praktek tambahan atau ulangan, maka ia berpikir bahwa tidak digunakan akan membawa lupa. Sebuah teori tidak digunakan menunjukkan bahwa lupa terjadi karena perjalanan waktu, namun perjalanan waktu, yaitu, waktu per se, tidak dapat menjadi penyebab terjadinya lupa. Peristiwa melakukan perubahan dalam perjalanan waktu tetapi bukan waktu yang menghasilkan perubahan. Sebaliknya, itu adalah apa yang terjadi selama berjalannya waktu yang membawa sekitar melupakan. Oleh karena itu, teori-teori memori telah berfokus pada proccesses yang bisa menghasilkan melupakan.
1. Teori Klasik Lupa: Kerusakan dan Interferensi
            Psikologi memori telah mengusulkan dua jenis teori umum untuk menjelaskan lupa: decay theory dan interference theory. Teori decay berpendapat bahwa alur memori yang  merupakan perwakilan dari peristiwa akan melemah dan berkurang secara otomatis bersamaan dengan perjalanan waktu. Ia berkurang secara otomatis tanpa ada kaitannya dengan tambahan pembelajaran yang berlangsung. Pengurangan atau pelemahan ini merupakan akibat dari sistem saraf manusia yang begiru adanya, sehingga lupa merupakan gejala yang wajar dan alami. Sebaliknya theori interference beranggapan bahwa lupa disebabkan oleh pengaruh pembelajaran baru dan pembelajaran sebelumnya.
            Teori interference memiliki keuntungan besar yang dapat diuji secara eksperimental, sedangkan teori decay sudah sangat sulit untuk mengevaluasi eksperimen. Studi teori interferensi telah menyebabkan pemeriksaan efek peristiwa yang terjadi selama selang retensi, yaitu peristiwa yang terjadi antara belajar beberapa tugas dan tes retensi. Studi tentang efek ini dikenal sebagai inhibisi retroaktif.

a. Retroactive Inhibition
Retroactive inhibition mengacu pada fakta bahwa suatu peristiwa dipelajari selama interval retensi dapat menyebabkan kelupaan terhadap peristiwa yang dipelajari sebelumnya. Retroactive inhibition hanyalah melupakan tugas sebelumnya dari proses belajar karena efek belajar beberapa tugas interpolasi selama selang retensi. Misalnya anda belajar daftar kosakata Spanyol dan kemudian belajar daftar kosakata perancis. Sebuah tes retensi Anda dari Spanyol mungkin akan menunjukkan beberapa kelupaan kosakata Spanyol karena interpolates kegiatan belajar bahasa Prancis. Apa yang Anda lakukan selama selang antara belajar beberapa tugas dan sedang diuji untuk retensi dapat memiliki efek kekuatan penuh pada apa yang Anda ingat.
b. Proactive Inhibition
Prosedur kedua yang digunakan untuk menyelidiki efek gangguan pada retensi adalah salah satu yang proces inhibisi proaktif. Dalam proactive inhibition umum ini kerugian dalam retensi yang dihasilkan oleh efek dari beberapa tugas yang dipelajari sebelumnya.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi retroactive inhibition dan proactive inhibition
Faktor-faktor yang mempengaruhi retroactive inhibition dan proactive inhibition antara lain adalah tingkat pembelajaran yang asli, tingkat pembelajaran dari tugas yang menyimpang, kemiripan antara kedua tugas, faktor kontekstual, dan faktor belajar.  Bila tugas yang diberikan pada pembelajan asli dibuat lebih mudah diingat, maka akan mudah dipelajari, dan sulit untuk dilupakan. Semakin besar tingkat pembelajaran tugas-tugas yang menyimpang dari tugas belajar yang pertama, semakin kecil tugas pembelajaran pertama dapat diingat. Semakin tinggi tingkat kemiripan antara tugas pertama dan tugas kedua, semakin besar peluang lupa.
d. Interference Theory
Interference theory yang berasal dari kajian retroactive inhibition dan proactive inhibition dalam long-term memory berangkat dari asumsi bahwa kelupaan merupakan akibat dari pembelajaran yang lain yang menghalangi proses mengingat kembali sesuatu yang dipelajari. Salah satu aspek dari interference theory adalah persaingan respon. Menurut pandangan ini, respon yang diperlukan dalam pembelajaran asli, yang terinterpolasi dan lekat pada stimulus yang mirip, tetap ada dalam memori sipelajar dan bersaing satu sama lain pada saat sipelajara berusaha memanggil kembali informasi yang asli. Sehingga muncul faktor kedua yang disebut dengan unlearning. Konsep ini mempunyai pandangan bahwa respon pembelajaran yang pertama cenderung untuk tidak dipelajari atau dihilangkan pada saat pada saat pembelajaran kedua datang.
2. Pendekatan Proses Informasi Lupa
            Pendekatan proses informasi berpandangan bahwa lupa merupakan akibat dari kegagalan untuk menemubalikkan informasi yang diperlukan. Endel Tulving membedakan antara kelupaan trace-dependent dan cue-dependent. Teori yang menjelaskan kelupaan dalam pandangan decay berasumsi bahwa kelupaan di dalam long-term memory terjadi karena proses trace-dependent. Sebaliknya teori yang berpendapat bahwa kelupaan terjadi karena kekurangan kunci-kunci penemubalikkan menekankan proses ketergantungan pada cue-dependent. Pandangan terakhir ini berpendapat bahwa begitu informasi telah dikodekan dengan efektif dan disimpan di dalam memori, maka yang menjadi masalah hanya penemubalikkan informasi tersebut. Dengan demikian, faktor kelupaan yang paling dominan menurut pandangan ini adalah hilangnya efektifitas kunci.
C.    Model Memori
            Dalam sistem otak kita terdapat dua model memori, yaitu: model Penyangga (Buffer) dan Model Human Associative Memory (HAM). Buffer Model dikembangkan oleh Richard Atkinson dan Richard Shiffrin tahun 1968, yang terdiri dari da komponen dasar yaitu: bentuk struktural dan faktor. Bentuk struktural dari model ini terdiri dari sensory register, the short-term store, and long-term store yang merupakan bentuk permanen dari sistem memori. Sebaliknya, proses kontrol merupakan aspek yang tidak permanen dari sistem memori dan merupakan proses sementara di bawah kendali manusia. Short-term store merupakan memori kerja manusia yang mempunyai beberapa fungsi, yaitu fungsi pertama yaitu sebagai alat penghubung antara short-term memory dan long-term memory.
             Fungsi kedua yaitu mengurus informasi yang telah ditemubalikkan dari long-term memory. Fungsi ketiga yaitu mempermudah pengalihan informasi dari short-term ke long-trm memory. Human Associative Memory (HAM) Model dikemukakan oleh Jhon Anderson and Gordon Bower (1973). Menurut model HAM, ingatan mempunyai hubungan yang bermakna antara unit-unit informasi yang dikodekan yang tersimpan dalam memori. Maksudnya adalah mengaitkan sesuatu dengan apa saja, bukan hanya dengan manusia, misalnya: kalau ingat buku, asosiasinya adalah tebu, ruas-ruas kuku, belajar, dan sebagainya.
Beberapa kebiasaan yang baik bisa dikembangkan berdasarkan teori dan kajian tentang memori, yaitu: pemahaman terhadap suatu objek yang dipelajari, memfokuskan perhatian pada materi pelajaran, mengatur susunan atau urutan penguatan, menyusun dan mengorganisasikan materi kedalam bentuk yang sangat sistematis dan bermanfaat, serta latihan proses penemuan kembali (retrieval).

D.    Kebiasaan Belajar Memori
Beberapa kebiasaan yang baik bisa dikembangkan berdasarkan teori dan kajian tentang memori, yaitu:
1. Pemahaman terhadap suatu objek yang dipelajari (pahami sasaran dan tujuan).
Sebelum membaca buku teks sangat baik di lakukan review atau membeca kerangka bab-babdan juga perhatikan table yang memiliki hubungan dengan sasaran.
2. Memfokuskan perhatian pada materi pelajaran
3. Mengatur susunan atau urutan penguatan
Buatlah jadwal kegiatan yang baik serta disertai dengan sedikit reward di akhir belajar.
4. Menyusun dan mengorganisasikan materi kedalam bentuk yang sangat sistematis dan bermanfaat. Ada lima dasar untuk menyusun materi tersebut: hakikat atau cirri dari konsep, metode pengukuran kajian, proses dan prinsip utama, isu-isu teoritis, implikasi dan penerapan prinsip-prinsip  yang dipelajari.
5.  Serta latihan proses penemuan kembali (retrieval).

TEORI PERKEMBANGAN KARIR: KRUMBOLTZ SERTA APLIKASINYA

Jumadi Mori Salam Tuasikal, M.Pd A.    Konsep Dasar             Jika kita bicara mengenai bimbingan karir melalui pendekatan pemilihan...