Sabtu, Maret 1

RPL LAYANAN KELOMPOK



R P L/P

RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN/ PEMBELAJARAN
BIMBINGAN DAN KONSELING

FORMAT KELOMPOK

I. IDENTITAS

A.
Satuan pendidikan
:
SMK N

B.
Tahun ajaran
:
2014 – 2015

C.
Sasaran Pelayanan
:
Siswa X

D.
Pelaksana
:
Jumadi Mori Salam Tuasikal

E.
Pihak terkait
:
Siswa dan Guru
II. WAKTU DAN TEMPAT

A.
Tanggal          
:
Sesuai dengan jadwal

B.
Jam Pembelajaran /Pelayanan
:
Waktunya disesuaikan

C.
Volume Waktu (JP)
:
2 JP ( 2 x 45 Menit)

D.
Spesifikasi Tempat Belajar
:
Ruang BK
III. MATERI PEMBELAJARAN

A.
Topik
:
Tugas/Bebas

B.
Sumber materi
:
-
IV. TUJUAN/ARAH PENGEMBANGAN

A.
Pengembangan KES
:
1.  Siswa mampu berkomunikasi dengan baik dengan anggota kelompok
2.  Siswa mampu memberanikan diri menyampaikan pendapat
3.  Siswa memahami masalah yang dibahas

B.
Penanganan KES-T    
:
Untuk mengatasi masalah yang menjadi topik bahasan
V. METODE DAN TEKNIK

A.
Jenis Layanan
:
Layanan Bimbingan Kelompok

B.
Keg. Pendukung
:
Aplikasi instrumentasi dan himpunan data
VI. SARANA

A.
Media
:
Melalui dinamika kelompok

B.
Perlengkapan
:






VII. SASARAN PENILAIAN HASIL PEMBELAJARAN

A.
KES
1.
Acuan (A)
:
siswa memahami masalah yang dibahas



2.
Kompotensi (K)
:
Siswa memeliki wawasan tentang topik yang dibahas.



3.
Usaha (U)
:
siswa berusaha untuk melaksanakan hasil konseling.



4.
Rasa (R)
:
Perasaan positif karena mampu memahami masalah yang sedang dihadapi



5.
Sungguh-sungguh (S)
:
Berniat dengan sepenuh hati melaksanakannya

B.
KES-T
:
Untuk menghindari masalah sesuai dengan topik yang dibahas.

C.
Ridho Tuhan, Bersyukur, Ikhlas dan Tabah:


Memohon ridho Tuhan Yang Maha Esa untuk suksesnya para siswa dengan adanya pelayanan BK.
 
VIII. LANGKAH KEGIATAN

a.       Tahap Pembentukan

v Menerima secara terbuka dan mengucapkan terima kasih
v Berdoa
v Menjelaskan pengertian bimbingan kelompok
v Menjelaskan tujuan bimbingan kelompok
v Menjelaskan cara pelaksanaan bimbingan kelompok
v Menjelaskan asas-asas bimbingan kelompok
v Perkenalan dilanjutkan rangkaian nama

b.      Tahap Peralihan

v Menjelaskan kembali kegiatan kelompok
v Tanya jawab tentang kesiapan anggota untuk kegiatan lebih lanjut
v Mengenali suasana tentang kesiapan anggota untuk tahap selanjutnya
v Memberikan topic bahasan

c.       Tahap Kegiatan
v Menjelaskan pentinya topik itu di bahas
v Pembahasa topic secara tuntas
v Selingan
v Komitmen para anggota kelompok

d.      Tahap Pengakhiran

v Menjelaskan kegiatan kelompok akan diakhiri
v Anggota kelompok mengemukakan kesandan menilai kemajuan yang di capai masing-masing
v Membahas kegiatan lanjutan
v Pesan serta tanggapan anggota kelompok
v Ucapan terima kasih
v Berdoa dan berpisah

IX. LANGKAH PENILAIAN DAN TINDAK LANJUT

1.
Penilaian Hasil
:
Di akhir proses pembelajaran siswa diminta merefleksikan (secara lisan dan atau tertulis) apa yang mereka peroleh dengan pola BMB3

2.
Penilaian Proses

:
Melalui pengamatan dilakukan penilaian proses pembelajaran untuk memperoleh gambaran tentang aktivitas siswa dan efektifitas pembelajaran/pelayanan.

3.
LAPELPROG dan Tindak Lanjut


Setelah kegiatan pembelajaran atau pelayanan selesai disusun Laporan Pelaksanaan Program Layanan (LAPELPROG) yang memuat data penilaian hasil dan proses, dengan disertai arah tindak lanjutnya.














Bumi,     2015
Konselor





Jumadi Mori Salam Tuasikal



Minggu, Januari 19

MEMORI 2: PENGORGANISASIAN, KELUPAAN, DAN MODEL MEMORI


                                                               Oleh: Jumadi Tuasikal
 
Karakteristik yang paling penting dalam pembelajaran individu adalah ingatan dan pengorganisasian. Jika karakteristik tidak maka akan terjadi kekacauan dalam proses ingatan. karena itu ingatan harus disusun sedemikian rupa.

A.    Proses pengorganisasian
 Informasi dalam memori dapat dilihat dengan cara:
     1.      Melihat pengaruh konteks dalam ingatan (context and memory). Konteks berperan membantu pengorganisasian bentuk-bentuk tertentu untuk menempatkan informasi dalam memori.
      2.      Constructive processes, proses ini mengacu kepada tindakan yang dilakukan manusia untuk mampu mengintegrasikan atau mengorganisasikan informasi dalam memori sehingga informasi tersebut menjadi lebih padu atau koheren.
      3.      Semantic memory, pembelajaran ingatan semantik mempunyai hubungan dengan ingatan kita secara alami. Peristiwa semantik dalam ingatan kita akan memberikan pengalaman bahasa yang baru. Peristiwa yang kita dapatkan melalui pengalaman bahasa berbeda dari pengalaman dan peristiwa di tempat-tempat tertentu. Berbagai makna kata dihubungkan satu sama lainnya dalam memori oleh suatu titik hubung dalam suatu jaringan.
4.      Perceptual grouping and memory: bahwa segala sesuatu informasi dikelompokkan secara perseptual, informasi yang ada akan tersusun secara sementara, oleh karena itu manusia menggunakan susunan untuk mengodekan dan menyimpan informasi tersebut.

B.     Lupa
Secara sederhananya Lupa dimaknai sebagai kegagalan untuk memunculkan kembali dari simpanan tentang informasi yang pernah ia dapatkan. Salah satu penyebab kelupaan adalah kegagalan menggunakan materi yang dipelajari, tidak adanya latihan dan pengulangan. Setelah informasi ditempatkan dalam memori jangka panjang itu jauh lebih tahan terhadap kelupaan. Namun demikian, informasi dalam sistem ini juga dapat melupakan fakta bahwa meskipun memori jangka panjang adalah sebuah sistem yang stabil lebih dari memori jangka pendek. Oleh karena itu, masalah utama dari memori jangka panjang adalah untuk menentukan penyebab dari lupa setelah waktu lama yang melibatkan tidak praktek tambahan.
Pandangan lama dipegang adalah bahwa lupa terjadi karena tidak digunakan. Jika kita gagal untuk menggunakan bahan belajar, dalam arti tidak ada praktek tambahan atau ulangan, maka ia berpikir bahwa tidak digunakan akan membawa lupa. Sebuah teori tidak digunakan menunjukkan bahwa lupa terjadi karena perjalanan waktu, namun perjalanan waktu, yaitu, waktu per se, tidak dapat menjadi penyebab terjadinya lupa. Peristiwa melakukan perubahan dalam perjalanan waktu tetapi bukan waktu yang menghasilkan perubahan. Sebaliknya, itu adalah apa yang terjadi selama berjalannya waktu yang membawa sekitar melupakan. Oleh karena itu, teori-teori memori telah berfokus pada proccesses yang bisa menghasilkan melupakan.
1. Teori Klasik Lupa: Kerusakan dan Interferensi
            Psikologi memori telah mengusulkan dua jenis teori umum untuk menjelaskan lupa: decay theory dan interference theory. Teori decay berpendapat bahwa alur memori yang  merupakan perwakilan dari peristiwa akan melemah dan berkurang secara otomatis bersamaan dengan perjalanan waktu. Ia berkurang secara otomatis tanpa ada kaitannya dengan tambahan pembelajaran yang berlangsung. Pengurangan atau pelemahan ini merupakan akibat dari sistem saraf manusia yang begiru adanya, sehingga lupa merupakan gejala yang wajar dan alami. Sebaliknya theori interference beranggapan bahwa lupa disebabkan oleh pengaruh pembelajaran baru dan pembelajaran sebelumnya.
            Teori interference memiliki keuntungan besar yang dapat diuji secara eksperimental, sedangkan teori decay sudah sangat sulit untuk mengevaluasi eksperimen. Studi teori interferensi telah menyebabkan pemeriksaan efek peristiwa yang terjadi selama selang retensi, yaitu peristiwa yang terjadi antara belajar beberapa tugas dan tes retensi. Studi tentang efek ini dikenal sebagai inhibisi retroaktif.

a. Retroactive Inhibition
Retroactive inhibition mengacu pada fakta bahwa suatu peristiwa dipelajari selama interval retensi dapat menyebabkan kelupaan terhadap peristiwa yang dipelajari sebelumnya. Retroactive inhibition hanyalah melupakan tugas sebelumnya dari proses belajar karena efek belajar beberapa tugas interpolasi selama selang retensi. Misalnya anda belajar daftar kosakata Spanyol dan kemudian belajar daftar kosakata perancis. Sebuah tes retensi Anda dari Spanyol mungkin akan menunjukkan beberapa kelupaan kosakata Spanyol karena interpolates kegiatan belajar bahasa Prancis. Apa yang Anda lakukan selama selang antara belajar beberapa tugas dan sedang diuji untuk retensi dapat memiliki efek kekuatan penuh pada apa yang Anda ingat.
b. Proactive Inhibition
Prosedur kedua yang digunakan untuk menyelidiki efek gangguan pada retensi adalah salah satu yang proces inhibisi proaktif. Dalam proactive inhibition umum ini kerugian dalam retensi yang dihasilkan oleh efek dari beberapa tugas yang dipelajari sebelumnya.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi retroactive inhibition dan proactive inhibition
Faktor-faktor yang mempengaruhi retroactive inhibition dan proactive inhibition antara lain adalah tingkat pembelajaran yang asli, tingkat pembelajaran dari tugas yang menyimpang, kemiripan antara kedua tugas, faktor kontekstual, dan faktor belajar.  Bila tugas yang diberikan pada pembelajan asli dibuat lebih mudah diingat, maka akan mudah dipelajari, dan sulit untuk dilupakan. Semakin besar tingkat pembelajaran tugas-tugas yang menyimpang dari tugas belajar yang pertama, semakin kecil tugas pembelajaran pertama dapat diingat. Semakin tinggi tingkat kemiripan antara tugas pertama dan tugas kedua, semakin besar peluang lupa.
d. Interference Theory
Interference theory yang berasal dari kajian retroactive inhibition dan proactive inhibition dalam long-term memory berangkat dari asumsi bahwa kelupaan merupakan akibat dari pembelajaran yang lain yang menghalangi proses mengingat kembali sesuatu yang dipelajari. Salah satu aspek dari interference theory adalah persaingan respon. Menurut pandangan ini, respon yang diperlukan dalam pembelajaran asli, yang terinterpolasi dan lekat pada stimulus yang mirip, tetap ada dalam memori sipelajar dan bersaing satu sama lain pada saat sipelajara berusaha memanggil kembali informasi yang asli. Sehingga muncul faktor kedua yang disebut dengan unlearning. Konsep ini mempunyai pandangan bahwa respon pembelajaran yang pertama cenderung untuk tidak dipelajari atau dihilangkan pada saat pada saat pembelajaran kedua datang.
2. Pendekatan Proses Informasi Lupa
            Pendekatan proses informasi berpandangan bahwa lupa merupakan akibat dari kegagalan untuk menemubalikkan informasi yang diperlukan. Endel Tulving membedakan antara kelupaan trace-dependent dan cue-dependent. Teori yang menjelaskan kelupaan dalam pandangan decay berasumsi bahwa kelupaan di dalam long-term memory terjadi karena proses trace-dependent. Sebaliknya teori yang berpendapat bahwa kelupaan terjadi karena kekurangan kunci-kunci penemubalikkan menekankan proses ketergantungan pada cue-dependent. Pandangan terakhir ini berpendapat bahwa begitu informasi telah dikodekan dengan efektif dan disimpan di dalam memori, maka yang menjadi masalah hanya penemubalikkan informasi tersebut. Dengan demikian, faktor kelupaan yang paling dominan menurut pandangan ini adalah hilangnya efektifitas kunci.
C.    Model Memori
            Dalam sistem otak kita terdapat dua model memori, yaitu: model Penyangga (Buffer) dan Model Human Associative Memory (HAM). Buffer Model dikembangkan oleh Richard Atkinson dan Richard Shiffrin tahun 1968, yang terdiri dari da komponen dasar yaitu: bentuk struktural dan faktor. Bentuk struktural dari model ini terdiri dari sensory register, the short-term store, and long-term store yang merupakan bentuk permanen dari sistem memori. Sebaliknya, proses kontrol merupakan aspek yang tidak permanen dari sistem memori dan merupakan proses sementara di bawah kendali manusia. Short-term store merupakan memori kerja manusia yang mempunyai beberapa fungsi, yaitu fungsi pertama yaitu sebagai alat penghubung antara short-term memory dan long-term memory.
             Fungsi kedua yaitu mengurus informasi yang telah ditemubalikkan dari long-term memory. Fungsi ketiga yaitu mempermudah pengalihan informasi dari short-term ke long-trm memory. Human Associative Memory (HAM) Model dikemukakan oleh Jhon Anderson and Gordon Bower (1973). Menurut model HAM, ingatan mempunyai hubungan yang bermakna antara unit-unit informasi yang dikodekan yang tersimpan dalam memori. Maksudnya adalah mengaitkan sesuatu dengan apa saja, bukan hanya dengan manusia, misalnya: kalau ingat buku, asosiasinya adalah tebu, ruas-ruas kuku, belajar, dan sebagainya.
Beberapa kebiasaan yang baik bisa dikembangkan berdasarkan teori dan kajian tentang memori, yaitu: pemahaman terhadap suatu objek yang dipelajari, memfokuskan perhatian pada materi pelajaran, mengatur susunan atau urutan penguatan, menyusun dan mengorganisasikan materi kedalam bentuk yang sangat sistematis dan bermanfaat, serta latihan proses penemuan kembali (retrieval).

D.    Kebiasaan Belajar Memori
Beberapa kebiasaan yang baik bisa dikembangkan berdasarkan teori dan kajian tentang memori, yaitu:
1. Pemahaman terhadap suatu objek yang dipelajari (pahami sasaran dan tujuan).
Sebelum membaca buku teks sangat baik di lakukan review atau membeca kerangka bab-babdan juga perhatikan table yang memiliki hubungan dengan sasaran.
2. Memfokuskan perhatian pada materi pelajaran
3. Mengatur susunan atau urutan penguatan
Buatlah jadwal kegiatan yang baik serta disertai dengan sedikit reward di akhir belajar.
4. Menyusun dan mengorganisasikan materi kedalam bentuk yang sangat sistematis dan bermanfaat. Ada lima dasar untuk menyusun materi tersebut: hakikat atau cirri dari konsep, metode pengukuran kajian, proses dan prinsip utama, isu-isu teoritis, implikasi dan penerapan prinsip-prinsip  yang dipelajari.
5.  Serta latihan proses penemuan kembali (retrieval).

Rabu, Desember 18

BAHASA

Oleh: Jumadi Mori Salam Tuasikal 
 
A.    KARAKTERISTIK BAHASA
Bahasa merupakan sebuah penyimbolan berupa gabungan kata-kata yang sesuai dengan prosedur atau kaidahnya. Bagian yang paling dasar dari bahasa adalah fonem, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang signifikan dalam membedakan makna melalui bunyi yang dihasilkan ini menjadikan Bahasa menjadi hal yang sangat mendasar dan esensial dalam kehidupan manusia,
Bahasa merupakan sarana dasar yang berguna untuk berpikir manusia. Bahasa merupakan gabungan kata-kata yang sesuai dengan prosedur atau kaidahnya. Bagian yang paling dasar dari bahasa adalah fonem, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang signifikan dalam membedakan makna (bunyi bahasa).
Gabungan fonem yang lebih tinggi menghasilkan morfem, yakni bentuk terkecil dalam bahasa yang mengandung makna. Morfem biasanya terdiri dari sekurang-kurangnya gabungan dua fonem, yaitu:
1.      Tingkat lexical, analisis bahan berkisar tentang bentuk kata yang digunakan dalam bahasa, seperti persamaan kata, lawan kata, dan bagaimana menggunakan kata tersebut dalam kalimat.
2.      Tingkat syntactic, arah kajian bahasa dalam susunan atau urutan kata, untuk membentuk prase dan kalimat, seperti : tata bahasa.
3.      Tingkat semantic, yaitu kajian yang terfokus pada makna bahasa.

B.     FUNGSI BAHASA
Fungsi bahasa sebagai symbol bagi manusia, mempunyai empat fungsi, yaitu :
1.      Bahasa berfungsi Instrumental, yaitu perilaku verbal yang dapat mengarahkan secara langsung, maksudnya bahasa sebagai alat instruksional (sebagai perintah), permohonan maaf dan sebagainya, tergantung dari bahasa yang disampaikan.
2.      Bahasa berfungsi sebagai stimulus atau sinyal untuk perilaku lain, maksudnya bahasa menimbulkan efek/respon dari orang-orang yang mendengarkan, contoh : “Jalan-jalan, ya?”, kalimat ini akan menimbulkan respon dari orang yang ditanya.
3.      Bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi manusia dengan orang lain, maksudnya ada informasi yang disampaikan langsung antara komunikator dengan komunikan, contoh : dalam berdiskusi, dialog, dan sebagainya.
4.      Bahasa berfungsi untuk menyampaikan makna, maksudnya bahasa dapat disampaikan melalui simbol-simbol, peribahasa, kiasan-kiasan, pepatah, ungkapan, dan lain-lain.

C.     STRUKTUR DALAM BAHASA
Berdasarkan ilmu bahasa struktur kalimat dibedakan atas dua, yaitu:
 1) Struktur luar (surface structure), merupakan kalimat sebenarnya seperti bunyi dan gambaran sederhana yang menghubungkan antara bagian kalimat.
2) Struktur dalam (deep structure), yaitu mengarah pada makna kalimat, dan spesifikasi hubungan antara kata dalam kalimat.

D.    BEBERAPA ISU DALAM BAHASA
1.      Pengembangan Bahasa
Pada mulanya bahasa adalah omongan (babbling) jelas, yang merupakan ide dasar dari vokalisasi. Proses belajar dalam perkembangan bahasa dimulai dari anak masih berusia dini. Anak-anak dapat menghasilkan bunyi sebelum berusia enam bulan, tapi belum berbentuk omongan, ia hanya bisa meniru bunyi bahasa.
Disinilah peran orang tua, ia harus menjadi contoh yang baik bagi anaknya, membantu anak dalam menambah perbendaharaan kata, baik dalam segala pola tingkah laku yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua tidak perlu khawatir menggunakan kata-kata yang tidak dimengerti anak, ia akan menyerap kata-kata itu kemudian akan mengerti artinya, karena kata-kata yang dimengerti jauh lebih banyak dari yang diucapkan.

2.      Language and Thought (Bahasa dan Pikiran)
Bahasa sangat erat hubungangnya dengan proses berpikir. Kalau anak mulai bisa mengusai bahasa dan bisa mengatakan maksudnya, maka ia akan lebih mudah dikendalikan. Tugas anak dalam belajar bahasa adalah menghubungkan stimulus lingkungan tertentu terhadap respon. Perkembangan bahasa dimulai dari perolehan asosiasi antara objek dan peristiwa.
Bahasa dan pemikiran sangat erat hubungannya, pemikiran kita dituangkan dalam bentuk tulisan. Bahasa dapat membantu pemecahan masalah, bahasa bukan merupakan faktor yang di dalam mengembangkan kapasitas kognitif manusia. Seorang anak yang bisu, dapat mengembangkan konsepnya, tanpa memerlukan bahasa konvensional, mereka berkembang dengan menggunakan sistem simbol lain untuk berkomunikasi.

3.      Language in Animals (Bahasa Binatang)
Binatang mempunyai bahasa tersendiri untuk berkomunikasi, namun binatang tidak mampu memproduksi kalimat dan tidak mampu menggunakan bahasa secara kreatif seperti manusia, dikarenakan binatang mempunyai kekurangan sistem alat ucap dan tidak memiliki aspek bahasa seperti manusia. Binatang berkomunikasi dengan anaknya hanya menggunakan isyarat saja, seperti : melalui suaranya.

4.      Cultural Differences in Language (Perbedaan Budaya dalam Bahasa)
Bahasa dipengaruhi oleh perkembangan budaya, wilayah, dan perbedaan etnik dalam bahasa. Banyak ahli sosiolinguistik menyatakan budaya dan aspek sosial lainnya mempunyai pengaruh yang besar dalam keragaman bahasa. Dengan kata lain, adanya perbedaan budaya dalam bahasa akan mewarnai ragam bahasa itu sendiri, dan ini perlu disatukan dalam sebuah konsep bahasa, misalnya bahasa Indonesia, walaupun terdiri dari berbagai etnik budaya dan bahasa, namun tetap diwarnai oleh logat (dialek) dari masing-masing bahasa daerah. 


5.      Language and The Brain (Bahasa dengan Otak)
Otak manusia terdiri dari dua hemispheres, yang fungsinya tidak sama. Masing-masing hemispheres tersebut menerima informasi dari indera, tetapi kedua hemispheres tersebut menerima informasi terpisah. Maksudnya ialah ada informasi itu berupa tulisan saja, tapi kita bisa baca sebelumnya, dan ada pula informasi itu kita dengar bahasanya, tapi tidak bisa dibaca, misalnya informasi dari radio.
Pada orang dewasa ceberal hemisphere sebelah kiri mengendalikan fungsi bahasa yang mencakup produksi bahasa lisan dan tulisan. Sebaliknya ciberal hemisphere sebelah kanan tidak mampu memproduksi bahasa atau memahami kata-kata yang abstrak. Tugas bagian otak sebelah kanan ini mengurus proses persepsi seperti pemahaman gambar pembelajaran dan pemahaman bentuk-bentuk visual.

A.    Teori Pembelajaran Bahasa
 Secara umum ada dua teori pendekatan dalam pembelajaran bahasa, yaitu:
a.    Pendekatan pengkondisian
Menurut pendekatan pengkondisian bahasa dipelajari sesuai dengan prinsip pengkondisian yang diaplikasikan dalam pemahaman belajar bahasa. B.F. Skinner memiliki gagasan dasar bahwa perilaku verbal sama seperti perilaku lainnya dan dipaparkan melalui penguatan respon yang benar. Anak-anak cenderung meniru perilaku verbal yang dia dengar dari orang dewasa di sekitarnya, dan jika ia melakukannya dengan benar maka ia cenderung diberi hadiah atau penguatan positif. Namun bila ia salah maka orang tua akan menahan penguatan dan bahkan memberikan hukuman.  
b.   Pendekatan psikolinguistik.
Namun, Noam Chomsky mengkritik teori yang telah dikemukakan B.F. Skinner. Menurutnya anak-anak mempelajari aturan-aturan bahasa yang kompleks pada saat ia belajar sebuah bahasa, walaupun mereka tidak mampu memverbalisasikan atau menjelaskan aturan-aturan tersebut. Anak-anak mendapat aturan tersebut tanpa harus diajarkan oleh orang lain dalam bentuk formal dan mereka mendapatkan hukum-hukum bahasa ini pada usia yang sangat dini. Kemampuan untuk mempelajari atau memperoleh bahasa melalui pengembangan aturan-aturan yang abstrak merupakan ciri yang unik pada manusia.

Reference:
Ellis, Henry C. 1978. Foundamentals Of Human Learning, Memory and Cognition (2nd Edition). Iowa: Wm. C. Brown Company Publisher.


TEORI PERKEMBANGAN KARIR: KRUMBOLTZ SERTA APLIKASINYA

Jumadi Mori Salam Tuasikal, M.Pd A.    Konsep Dasar             Jika kita bicara mengenai bimbingan karir melalui pendekatan pemilihan...